Anak, Amanah Atas Kedua Orang Tua
Prof.Dr.Musliat, Prof.Dr.Ki Supriyoko Taman Siswa, KH.
Mahrus Amin
Tak dapat disangkal, bahwa semua itu karena minimnya
pendidikan agama sedari dini, sejak manusia dalam kandungan. Sejak kecil
harusnya seorang anak tidak dibiarkan berkeliaran di luar kontrol orang tuanya.
Orang tua terkadang sibuk mencari nafkah, dengan dalih demi kelangsungan hidup
keluarga. Mereka lupa, hakekatnya pendidikan akhlak dan kasih sayang kepada
anak adalah lebih penting dari sekadar menimbun uang.
ANAK, AMANAH ATAS KEDUA ORANG TUA
Kita tak perlu heran
terhadap mereka yang telah menyia-nyiakan perintah Allah di dalam hak anak dan
keluarga mereka. Seandainya api dunia mengenai anaknya atau nyaris menyentuhnya,
pasti ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menghindarkan anaknya dari api
tersebut, dan buru-buru pergi ke dokter untuk segera mengobati luka-lukanya.
Adapun api akhirat, maka ia tidak mau mencoba untuk membebaskan anak-anak dan
keluarganya darinya. Wallahu al Musta’an.
Padahal Allah ‘Azza Wajalla telah berfirman, artinya: “Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim: 6).
Seorang ayah adalah penanggung jawab pertama, lantaran ia
sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, maka ia akan ditanya oleh Allah ‘Azza
Wajalla tentang rumah tangganya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda,
وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْْلِ بَيْتِهِ
وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا
وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عْ
“Seorang suami adalah pemimpin dalam
keluarganya, dan ia akan ditanya atas kepemimpinannya, dan seorang istri adalah
pemimpin dalam rumah tangga suaminya dan anaknya, maka ia akan ditanya tentang
mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Oleh sebab itu, kedua orang tua harus bangkit melaksanakan
kewajibannya terhadap anak, berupa perhatian, pengawasan, dan pendidikan yang
baik, agar kelak menjadi generasi yang baik dapat memberi manfaat bagi orang
tua dan kaum Muslimin yang lain.
HAL PERTAMA YANG PERLU DIAJARKAN KEPADA ANAK
Orang tua, terutama ibu, memiliki peranan terbesar dalam
pendidikan anak-anaknya. Akan tetapi seringkali mereka tidak mengetahui dari
mana mereka harus mulai menanamkan akidah Islam pada buah hatinya, bagaimana
mengajarkannya dan bagaimana menancapkannya pada hati mereka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan
terbaik bagi kita dalam segala hal, termasuk dalam pergaulan beliau dengan
anak-anak. Dalam masalah ini, kita bisa memetik lima pokok dalam pendidikan
beliau terhadap akidah anak-anak:
1. Membiasakan anak mengucapkan dan mendengarkan kalimat
tauhid dan memahamkan maknanya jika ia telah besar.Wajib atas orang tua untuk
menumbuhkan tauhid terhadap Allah pada anak-anaknya sedari dini. Oleh karena
itu, ajarkan dan pahamkan anak bahwa Rabb mereka adalah Allah ‘Azza Wajalla
Dialah yang menciptakan, yang memberi rejeki, yang menghidupkan dan makna-makna
rububiyyah Allah lainnya. Setelah mengenal keagungan Allah dalam rububiyah-Nya,
iringilah dengan mengajarkan bahwa Allah-lah yang berhak untuk disembah, diibadahi,
disyukuri, diharapkan dan hanya kepada-Nya pula ditujukan segala jenis ibadah.
Tak kalah pentingnya memperingatkan mereka dari syirik dan menjelaskan
bahayanya pada mereka.
2. Menanamkan Kecintaan anak terhadap Allah
Dalamnya kecintaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan
tertanamnya keimanan terhadap takdir-Nya membawa seorang anak untuk bisa
menghadapi hidupnya dengan optimis dan tawakkal. Benih cinta kepada Allah yang
tertanam akan menumbuhkan keberanian, karena dia akan menyadari bahwa tidak ada
yang pantas ditakuti kecuali kemurkaan-Nya.Gambaran keberanian yang menakjubkan
ini terlukis pada diri seorang anak kecil, hasil didikan generasi mulia,
Abdullah bin Az-Zubair. Suatu saat Abdullah dan anak-anak sebayanya berkumpul
dan bermain-main di suatu jalan. Ketika melihat Umar bin Khattab Radhiyallahu
‘Anhum lewat di jalan tersebut, semua anak berlarian kecuali Abdullah bin
Az-Zubair. Menyaksikan peristiwa itu, Umar merasa takjub sehingga bertanya
kepada anak kecil itu, apa sebabnya ia tidak lari seperti anak-anak lainnya.
Abdullah kecil pun menjawab, “Aku tidak bersalah sehingga aku harus lari, dan
aku tidak takut pada Anda, sehingga aku harus meluaskan jalan bagi Anda.”
Inilah sosok mungil Abdullah bin Az-Zubair, tidak ada yang
ditakutkannya kecuali kemurkaan Rabbnya karena melanggar larangan atau
meninggalkan perintah-Nya.
3. Menanamkan kecintaan anak pada Nabi Shallallahu Alaihi
Wasallam
Dalam riwayat Bukhari dari Umar bin Khattab Radhiyallahu
‘Anhum bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدَكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“Tidak beriman salah seorang dari
kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh
manusia.” (HR. Bukhari).
Betapa pentingnya kecintaan terhadap Nabi Shallallahu Alaihi
Wasallam sampai-sampai tidak akan sempurna iman seseorang tanpanya.
Membacakan sirah (sejarah) Rasulullah Shallallahu Alaihi
Wasallam dan mengenalkan mereka akan sifat-sifat beliau yang mulia merupakan
upaya terbaik untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada beliau.
4. Mengajarkan pada anak Al Qur’an Al Karim
Sepantasnya bagi orang tua untuk memulai pelajaran bagi
putra-putrinya dengan Al Qur’an sejak dini. Yang demikian itu untuk menanamkan
pada mereka bahwa Allah adalah Rabb mereka dan Al Qur’an adalah firman-Nya.
Menancapkan ruh Al Qur’an pada hati-hati mereka dan cahaya Al Qur’an pada
pikiran-pikiran mereka, sehingga mereka tumbuh di atas kecintaan kepada Al
Qur’an. Hati mereka menjadi terikat padanya sehingga mereka siap untuk
mengikuti perintahnya dan berhenti dari larangan-larangan yang ada padanya, berakhlak
dengan akhlak Al Qur’an dan berjalan di atas manhajnya.Imam As-Suyuthi
mengatakan bahwa mengajarkan Al Qur’an pada anak merupakan salah satu pokok
Islam agar mereka tumbuh di atas fitrahnya, dan cahaya hikmah itu lebih dahulu
menancap di hati mereka sebelum menetapnya hawa nafsu, kotoran-kotoran maksiat
dan kesesatan.Para salafus shaleh biasa mengajari anak-anak mereka Al Qur’an
sebelum mencapai usia 3 tahun, sehingga kita akan dapati pada usia yang masih
belia, mereka telah menghapal Al Qur’an. Sebut saja Imam Syafi’i, beliau telah
hapal Al Qur’an pada usia 10 tahun, demikian pula Imam Nawawi rahimahumallah.
5. Mendidik anak untuk. berakhlak yang baik
Islam sebagai agama yang sempurna dan relevan di setiap tempat
dan zaman sangat menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak. Nabi Shallallahu Alaihi
Wasallam diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sebagaimana
sabdanya,
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ
الْأَخْلَاقِ
“Aku diutus oleh Allah tidak lain
untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al
Albani).
Akhlak merupakan tolok ukur iman seseorang. Sebagaimana
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ
خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna
imannya adalah yang paling sempurna akhlaknya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi,
dishahihkan oleh Al Albani).
Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
pernah ditanya tentang penyebab yang paling banyak orang masuk surga. Beliau
menjawab,
تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“Takwa kepada Allah dan akhlak yang
baik.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad, dishahihkan oleh Al Albani).
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ
مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ
“Tidak ada sesuatu yang paling berat
dalam timbangan melebihi akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Hadits-hadits di atas menunjukkan betapa akhlak yang baik
memiliki keutamaan dan ketinggian derajat. Sudah sepantasnya apabila kita
berusaha untuk memilikinya. Tetapi perlu diingat bahwa ukuran baik buruknya
akhlak seseorang tidaklah didasari oleh selera individu masing-masing, atau
menurut adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Semuanya harus berpedoman
menurut norma Islam.
6. Memilih sekolah / lembaga pendi-dikan yang baik bagi anak
Adanya generasi yang buruk, bukan karena kesalahan mereka
semata, namun ada faktor lain yang turut menentukan hal tersebut.Selain
keluarga sebagai sekolah pertama bagi anak-anak, pendidikan formal pun memiliki
peranan penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Akan tetapi,
pendidikan formal saat ini, pada umumnya tidak mampu mendidik anak didiknya
dengan baik. Contoh, sekolah/lembaga pendidikan hanya sekadar mentransfer ilmu,
sedangkan pembinaan kerpribadian jarang dilakukan. Belum lagi kurikulum yang
diterapkan sebagian besar adalah ilmu umum, sedangkan ilmu agama sangat sedikit
sekali, menyebabkan anak didik berperilaku kurang baik.
Sumber :
http://www.ldii.or.id/in/n/op/788-anak-amanah-atas-kedua-orang-tua.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar