tulisan yg lalu telah kita bicarakan
tentang kebenaran ibadah menurut dasar Quran dan Hadist, dan bahayanya
serta resiko beribadah menurut dasar selain Al-Quran dan Al -hadist ,
lebih jelas lagi tentang bahaya bid’ah dalam Islam, kita sebagai umat islam harus memahami
dari pengertian bid’ah yang sebenarnya.
Dalam urusan ibadah, sedikitpun kita tidak
berhaq dan tidak diperbolehkan untuk mengatur, merubah atau menambah dan
mengurangi . Apa yg telah dikerjakan dan dicontohkan oleh nabi, kita harus
mengerjakan sesuai dengan petunjuk ada Seperti contoh dalam masalah sholat
nabi bersabda :
صَلُّوا
كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي = sholatlah kamu seperti apa yg kamu lihat bagaimana aku (nabi)
mengerjakannya.
Disini nabi didalam
mengerjakan sholat langsung dengan membaca takbir dan diakhiri dengan salam,
nabi tidak pernah mengerjakan atau mengajarkan cara sholat dengan melafadkan
niat, jika itu dikerjakan itulah yang dinamakan bid’ah.
Dengan demikian kita
sebagai umat islam yg telah menyadari akan hakekat hidup kita untuk beribadah
kepada Alloh dan agar ibadah yg kita kerjakan ini tidak sia-sia maka kita harus
betul-betul memahami dan bisa membedakan mana perbuatan sunah dan mana
perbuatan bid’ah, sebab semua bid’ah dan semua ibadah yg dicampuri bid’ah pasti
ditolak oleh Alloh berdasarkan sabda nabi:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَبَّاسٍ قَالَ
َالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَبَى اللَّهُ أَنْ يَقْبَلَ عَمَلَ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ
بِدْعَتَهُ
(رواه ابن ماجه عن
عبدالله)
|
Jumat, 22 Februari 2013
Beribadah sesuai dengan kehendak Allah
Sabtu, 16 Februari 2013
Nasihat
Anak, Amanah Atas Kedua Orang Tua
Prof.Dr.Musliat, Prof.Dr.Ki Supriyoko Taman Siswa, KH.
Mahrus Amin
Tak dapat disangkal, bahwa semua itu karena minimnya
pendidikan agama sedari dini, sejak manusia dalam kandungan. Sejak kecil
harusnya seorang anak tidak dibiarkan berkeliaran di luar kontrol orang tuanya.
Orang tua terkadang sibuk mencari nafkah, dengan dalih demi kelangsungan hidup
keluarga. Mereka lupa, hakekatnya pendidikan akhlak dan kasih sayang kepada
anak adalah lebih penting dari sekadar menimbun uang.
ANAK, AMANAH ATAS KEDUA ORANG TUA
Kita tak perlu heran
terhadap mereka yang telah menyia-nyiakan perintah Allah di dalam hak anak dan
keluarga mereka. Seandainya api dunia mengenai anaknya atau nyaris menyentuhnya,
pasti ia akan berjuang sekuat tenaga untuk menghindarkan anaknya dari api
tersebut, dan buru-buru pergi ke dokter untuk segera mengobati luka-lukanya.
Adapun api akhirat, maka ia tidak mau mencoba untuk membebaskan anak-anak dan
keluarganya darinya. Wallahu al Musta’an.
Padahal Allah ‘Azza Wajalla telah berfirman, artinya: “Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim: 6).
Seorang ayah adalah penanggung jawab pertama, lantaran ia
sebagai pemimpin dalam rumah tangganya, maka ia akan ditanya oleh Allah ‘Azza
Wajalla tentang rumah tangganya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
bersabda,
Jumat, 15 Februari 2013
Tentang Hari Valentin
Pandangan Ulama tentang Valentine's Day
Februari, adalah bulan yang oleh kebanyakan kaum muda selalu
dinantikan. Valentine's Day, hari dimana kebanyakan kaum muda merayakannya
dengan berbagai macam cara dan acara. Banyak pendapat mewarnai peringatan hari
kasih sayang atau Valentine's Day yang biasa dirayakan setiap tanggal 14
Februari. Kontroversi muncul karena tak jarang perayaan hari kasih sayang
tersebut identik dengan pesta pora hingga larut malam, bahkan tidak jarang yang
menyalah gunakannya dengan pesta seks.
Pendapat para Ulama
Menyikap hal tersebut, Ustadz Haji Trigunawan Hadi, salah satu
pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ketika diminta pendapatnya
mengenai Valentine's Day, kepada IRNews menuturkan, perayaan hari Vaelntine
tidak sesuai dengan kultur Indonesia.
Terlebih dalam Islam, Valentine's Day cenderung lebih melegalkan pada kebebasan pergaulan dan melupakan norma-norma
yang ada dimasyarakat.
Sabtu, 09 Februari 2013
Sudahkah Bersyukur Hari Ini??
Sudahkah Bersyukur Hari Ini??
Alhamdulillah, beberapa jam
yang lalu, pesawat yang saya tumpangi mendarat dengan mulus di landasan pacu
Bandara Sultan Thaha (Suha). Tak ada guncangan. Padahal, ketika menjejakkan
kaki ke tangga, turun dari pesawat di sambut rintik – rintik hujan.
Payung pun tak urung dikenakan.
Alhamdulillah, di dalam pesawat itu, di lajur sebelah, tepatnya seberang bangku saya, seorang penumpang terus-menerus menghitung tasbih melingkari jarinya. Khusyu’ berdzikir. Adem mata ini memandangnya. Walau banyak pemandangan lain, rasanya magnet itu begitu sayang untuk dilewatkan. Menambah ingat Allah akan nikmatNya.
Alhamdulillah juga, di dalam perjalanan atas itu, tak kuasa kedua mata ini terpejam menahan penat jiwa. Anugerah yang tak tertahankan, dimana banyak juga penumpang lain terkulai menahan sebagian derita perjalanan ini: capek dan kantuk.
Alhamdulillah, di dalam pesawat itu, di lajur sebelah, tepatnya seberang bangku saya, seorang penumpang terus-menerus menghitung tasbih melingkari jarinya. Khusyu’ berdzikir. Adem mata ini memandangnya. Walau banyak pemandangan lain, rasanya magnet itu begitu sayang untuk dilewatkan. Menambah ingat Allah akan nikmatNya.
Alhamdulillah juga, di dalam perjalanan atas itu, tak kuasa kedua mata ini terpejam menahan penat jiwa. Anugerah yang tak tertahankan, dimana banyak juga penumpang lain terkulai menahan sebagian derita perjalanan ini: capek dan kantuk.
Langganan:
Postingan (Atom)